...Selamat Datang di Blognya Inspirasi Yanie, Semoga Berkesan...
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Menggali Potensi Si “Penutup Diri”

 


        Guru, mungkin sebenarnya bukan profesi yang sesuai dengan bidang pendidikan yang saya tempuh selama kuliah. Guru sepertinya adalah panggilan jiwa saya, jiwa dari seorang anak guru. Ya, bapak dan ibu saya adalah seorang guru. Saat ini saya mengajar di salah satu kota santri di Jawa Barat. Tepatnya di MTsN 11 Tasikmalaya. Baru berjalan 2 tahun, dan untuk ukuran saya 2 tahun di tempat baru belum bisa menjadi ukuran untuk bisa mengenal potensi dan menganalisis masalah dengan baik. Apalagi pembelajaran daring selama ini. Tapi pengalaman di sekolah sebelumnya yang akan coba saya tuangkan dalam catatan pendek ini. Sebelumnya saya mengajar di sebuah sekolah swasta, yaitu di SMPIT Insan Teladan di Cileunyi Jawa Barat. Di sekolah inilah awal saya mengenal literasi dan menjadi awal ide tulisan ini.

SMPIT Insan teladan adalah salah satu sekolah swasta dengan dasar Pendidikan Islam yang kuat di Cileunyi, Kabupaten Bandung. Awal saya mengajar, sekolah ini baru memiliki dua jenjang, yaitu kelas 7 dan 8. Membayangkan dengan sedikit peserta didik, tentu pembelajaran lebih menyenangkan, karena kita dapat mengenal anak-anak dengan lebih dekat. Dan tentunya sangat mudah memantau akhlak dan pembelajaran bagi mereka. Tapi ternyata permasalahan mengajar tidak hanya di seputar kuantitas, tapi kualitas.  Peserta didik dengan kuantitas sedikit menyebabkan beberapa murid dominan menguasai kelas.

Dalam kelas kecil yang terdiri dari 20 peserta didik, ada dua anak yang masuk dalam kategori anak super pendiam, menutup diri dan cenderung introvert. Mereka adalah Nai dan Ila. Saat pembelajaran atau saat bersenda gurau dengan temannya mereka berdua tidak pernah bersuara. Saat bertanya juga selalu mendekati meja guru dan berbisik jika bertanya. Kedua anak pendiam ini duduk sebangku dan tidak dapat dipisahkan. Apabila dipisahkan salah satu dari mereka akan menangis, dan besoknya keduanya tidak masuk sekolah, sebuah keadaan melankolis yang mengkhawatirkan bagi perkembangan psikologis. Keadaan mereka berdua yang sangat introvert ini menyebabkan mereka menjadi anak yang tidak muncul prestasinya. Keadaan mereka membuat mereka menjadi yang terbawah secara akademik, dan dalam pergaulan menjadi tidak diperhitungkan oleh teman-temannya. Keadaan yang berlangsung dari kelas 7 ini semakin manjadi di kelas 8. Saat teman yang lain aktif dalam organisasi di sekolah, mereka berdua selalu menggeleng setiap ditanya mau ikut kegiatan apa.

Sebagai wali kelas, saya berusaha mendekati mereka, kebetulan saya mengajar Bahasa Indonesia dan membuat ekskul Mading (Majalah Dinding). Setiap hari saya mendekati mereka berdua mengajak berbicara dan cerita apa saja. Awalnya mereka hanya menanggapi dengan senyum dan senyum. Lama kelamaan mereka mulai menanggapi dengan suara yang memang nyaris tidak terdengar. Saya tetap berusaha mengajak mereka berbicara dan berhasil mengajak mereka mengikuti ekskul Mading.

Beberapa bulan mengikuti ekskul mading, mereka berdua ternyata sangat rajin dan kreatif. Tanpa banyak bicara mereka selalu menyelesaikan tugas mading sesuai waktu yang telah ditentukan. Saya semakin sering mengajak mereka berbicara, dan mereka sudah bisa bercanda dengan beberapa teman di ekskul Mading. Saya juga mempercayakan mereka untuk mengkoordinir ekskul Mading dan pojok baca kecil yang baru kita rintis di sekolah. Saya selalu ajak mereka berdiskusi tentang buku yang akan kita beli dan yang mereka ingin baca.

Pada tahun 2018, sekolah kami mengikuti program dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung berupa program LRCKB (Leader Reading Challenge Kabupaten Bandung). Program ini merupakan tantangan dari Kepala Dinas Pendidikan, bagi peserta didik untuk membaca dan mereviu minimal 12 buku dalam setahun. Program ini memberikan kesempatan kepada semua sekolah untuk mengirimkan minimal 5 peserta didiknya. Kepala Sekolah memberikan tantangan kepada saya untuk menjadi pembina Tim LRCKB. Dengan senang hati saya menyanggupinya dan mulai memilih beberapa anak untuk saya ajak dalam Tim LRCKB. Agar mudah koordinasi, maka saya mengajak anak-anak di ekskul Mading untuk menjadi Tim LRCKB. 10 anak bersedia dan siap mengikuti.

Dari 10 anak yang ada di Tim LRCKB, Nai dan Ila saya ajak. Dan mereka ternyata bersedia dan paling antusias. Tugas dari Tim LRCKB ini adalah menyelesaikan tantangan membaca minimal sebulan satu buku dan membuat reviunya serta melakukan presentasi di depan Tim di akhir bulan. Seiring berjalannya program ini, Nai dan Ila ternyata dapat membaca dan membuat reviu buku dalam sebulan lebih dari 3 buku. Sebuah prestasi yang luar biasa dibandingkan temannya yang lain. Program terus berlangsung dan mereka berdua susul menyusul dalam hal perolehan membaca dan mereviu buku. Bahkan mereka sudah mulai mau mempresentasikan hasil reviu bukunya di depan teman-teman sekolah saat “Jum’at Membaca” di sekolah. Meraka sangat konsisten dan rajin bertanya adakah buku baru yang bisa dibaca. Hasil reviu mereka juga semakin bagus isi tulisannya. Sebuah kemajuan yang jauh dari perkiraan saya.

Pada akhir program, Ila membaca 70 buku selama setahun, dan memiliki Pohon Geulis (Pohon Gerakan Literasi) paling lebat di sekolah. Mereka berdua dan 3 temannya berhasil mengikuti Jambore Literasi Kabupaten Bandung karena berhasil menyelesiakan tantangan membacaminimal 12 buku dalam setahun. Setelah acara berlangsung, mereka berdua menjadi anak yang mulai membuka diri dan mulai berani berbicara di depan teman-temannya.

Perubahan mereka ternyata di apresiasi oleh beberapa guru, yang mengatakan bahwa Nai dan Ila mulai ada suaranya saat di kelas. Saat guru bertanya mereka berdua sudah mau menjawab, dan mereka berdua mulai terlihat prestasinya. Mereka saat ini sudah belajar di Sekolah Menengah Atas. Ila melanjutkan ke MAN 2 Bandung, dan Nai melanjutkan ke MA di Kuningan. Dari status di Medsos yang sering diunggah Ila, dia sekarang aktif berorganisasi di sekolahnya, dan terlihat lebih menikmati masa sekolahnya. Dan menurut teman-temannya mereka sudah tidak lagi pendiam, sekarang temannya banyak.

Saat kelulusan Ila mengirimkan surat kepada saya, yang menceritakan hal paling menyenangkan yang dia dapatkan saat sekolah adalah saat dia dianggap ada. Saat dia bisa menunjukkan bahwa dia bisa berprestasi. “Dan itu karena ibu selalu menganggap saya ada dan selalu mengatakan saya bisa seperti yang lain”. Terharu saya membacanya, dan pastinya saya bangga dengan mereka.  Tentu prestasi tidak selalu harus nilai yang tinggi, dengan sedikit kesempatan yang kita berikan ternyata anak yang selalu menutup diri pun bisa menjadi anak hebat yang bisa membanggakan dan menunjukkan bahwa mereka bisa berprestasi. Lebih menggembirakan lagi bagi saya, sampai saat ini mereka tetap suka membaca dan menyukai buku.

Mengganggap mereka ada dan mengajak mereka berbicara adalah hal yang saya lakukan untuk menggali potensi yang dimiliki oleh peserta didik yang pendiam dan menutup diri tersebut. Karena menurut saya setiap mereka mempunyai potensi yang harus digali. Peserta didik yang menutup diri potensinya tentu perlu digali, berbeda dengan peserta didik yang terbuka dan pandai ‘show up’. Dan apabila salah satu potensinya sudah tergali pasti akan diikuti munculnya prestasi-prestasi lainnya. Setiap anak adalah unik dan sebagai guru kita harus percaya bahwa mereka “berpotensi”.