...Selamat Datang di Blognya Inspirasi Yanie, Semoga Berkesan...

Uji Makanan Yuk .....

 Wah, hari ini makanan apa yang sudah masuk ke mulut kalian?

Pasti sudah beraneka ragam makanan masuk ya? hehe..

Bolehkah semua makanan masuk ke tubuh kita?

Tentunya boleh saja, asal memenuhi kriteria makanan yang sehat dan pastinya HALAL. Makanan itu ada 4 kategori (menurut pengamatan aku aja ini..hi):

1. Makanan enak di mulut, tidak enak di perut:

2. Makanan tidak enak di mulut, enak di perut;

3. Makanan enak di mulut, enak di perut;

4. makanan tidak enak di mulut, tidak enak di perut.

Nah tentu kita bisa memilih makanan seperti apa yang akan masuk ke tubuh kita. Adapun makanan sehat, adalah makanan yang kandungannya akan dipergunakan oleh tubuh untuk melakukan metabolisme. Makanan yang sehat harus mengandung karbohidrat, Protein, lemak, vitamin dan mineral.

Nah hari ini, anak-anak kelas 8G melakukan pembelajaran uji kandungan makanan dengan alat sederhana.

Yuk lihat keseruan mereka:










Seragam KORPRI Baru

 

Ada yang punya seragam baru ni, cie ….

Seragam yang dipakai ASN sebulan sekali ganti lho (Bagi yang sudah ganti mah bukan lagi baru ya…hehe)

Ya seragam kebanggaan si batik biru KORPRI ganti desain lho. Dilihat sekilas mah warnanya lebih gelap. Dan lambang KORPRI nya jadi menyala alias keemasan (biasanya kan hitam).

Bagus ga ya di kulit gelapku..ups.. sudah terlalu cinta sama yang lama  soalnya.

Tapi tahukah kalian bahwa desain baru KORPRI ini bernama “Bumi Nusasegara”? keren ya namanya. Desain ini ternyata dibuat oleh ASN Biro Umum dan ASD Pemprov DKI Jakarta yang memenangkan sayembara three branding desain seragam KORPRI nasional.

Motif batik ini dibuat simetris menapilkan kesan profesionalisme, menggambarkan budaya nusantara yang beragam dari 5 pulau terbesar. Konsep warna emas atau bumi mencerminkan kesuburan bumi Nusantara dan membangun berazazkan lingkungan. Biruu muda/nusa tentang pulau-pulau dan udara bersih serta biru laut mencerminkan lautan Indonesia sebagai negara maritim. Langgeng adalah motif batik Aceh, Kaum dari Jawa, Tata Badan Kalimantan, Pa’tedong/kepala kerbau Sulawesi dan Burung Cendrawasih Papua.

Kementerian Dalam Negeri telah menerbitkan ketentuan terbaru mengenai penggunaan pakaian seragam Korpri bagi pegawai ASN (PNS dan PPPK) di lingkungan Pemerintah Daerah. Ketentuan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 025/3293/SJ tahun 2022 tentang Pakaian Seragam Batik Korps Pegawai Republik Indonesia di Lingkungan Pemerintah Daerah, yang ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal Kemendagri Dr. H. Suhajar Diantoro, M.Si.


Berikut surat edaran tentang pakaian seragam batik KORPRI terbaru 

download DISINI

Bye Bye baju kesayangan ... hik, hik,,


 


Main Mayo Memudahkan Belajar Klasifikasi Sistem 5 Kingdom

 


Sebagai guru saya memiliki keinginan agar murid-murid saya bisa antusias dalam belajar. Pembelajaran di kelas sudah seharusnya dilakukan dengan keadaan sama-sama bahagia, menyenangkan, dan menambah wawasan. Sebagai subjek peserta didik harusnya dapat mengikuti pelajaran sebagai kewajibannya dan mendapatkan ilmu sebagai haknya. Namun ternyata tidak selamanya peserta didik dapat mengikuti pembelajaran sesuai keinginanya. Pada usia SMP, mereka masih lebih senang bermain dan tidak berpikir keras. Akibatnya banyak pelajaran yang membuat mereka tidak antusias karena merasa bahwa pelajaran itu membosankan, banyak hafalan, dan membuat ngantuk. Pelajaran IPA sebagai salah satu pelajaran yang banyak teorinya membuat pelajaran ini dinilai peserta didik sebagai pelajaran yang membuat boring dan sangat membosankan. Terlalu banyak materi dan kata-kata sulit, serta memerlukan pemahaman dan ketelitian tinggi. Terutama pada materi Klasifikasi Makhluk Hidup, yang teori dan nama ilmiahnya sangat banyak. Jangankan antusias, mereka masih mendengarkan saat pelajaran berlangsung pun sudah lebih baik. Saya khawatir jika dibiarkan maka mereka akan semakin malas, dan tidak ada keinginan untuk mempelajari klasifikasi sehingga pada akhirnya nilai tidak memenuhi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal).

Dan ternyata bermain masih menjadi hal yang sangat menyenangkan bagi peserta didik kelas 7 MTs. Seolah-olah apapun benda disekitar mereka bisa dimainkan. Dan ternyata dari hasil obrolan dengan mereka, mereka suka dengan suasana kompetisi antar teman saat bermain. Bahkan saat pembelajaran sedang berlangsung, mereka terkadang mencuri-curi waktu untuk sekedar bermain lempar kertas bergambar dengan teman-temannya.

Saya mencoba mencari cara untuk membuat pembelajaran Klasifikasi Makhluk Hidup ini menjadi menarik perhatian mereka. Menganalisis dari kesukaan mereka bermain, walau hanya dengan kertas membuahkan ide bagi saya untuk membuat media pembelajaran sederhana. Dari kertas saja sepertinya cukup dan sudah membuat mereka tertarik. Akhirnya saya membuat media pembelajaran sederhana berupa papan permainan dengan kartu. Kartunya berisi ciri makhluk hidup dan papannya berisi sistem klasifikasi makhluk hidup (sistem 5 kingdom).

Saat saya membawa papan permainan dan kartu yang berwarna, mereka mulai tertarik dan terlihat antusias begitu saya masuk kelas. Melihat antusias mereka saya mulai memperkenalkan media sederhana tersebut. Dan tak disangka mereka tertarik bermain. Dan mereka mulai berkelompok dan memainkan permainan tersebut. Awalnya mereka masih sedikit bingung, tapi antusis dan rasa senang bermain membuat mereka semakin enjoy bermain dan tanpa mereka sadari mereka sudah bisa mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan ciri-cirinya pada klasifikasi system 5 kingdom tanpa saya harus ceramah dan mereka mengantuk. Rasanya ikut bahagia begitu refleksi materi mereka merasa senang belajar dan lebih mudah ingat dengan konsep ciri dan klasifikasi makhluk hidup. Merdeka belajar memang harus diawali dengan empati untuk menyelesaikan kesulitan peserta didik. Semoga saya bisa istiqomah berempati dan membangun suasana merdeka belajar bagi peserta didik saya.   

Tulisan ini diuat di Surat kabar Guru Belajar: https://bit.ly/skgurubelajarWIT2021-Jilid2

Menggali Potensi Si “Penutup Diri”

 


        Guru, mungkin sebenarnya bukan profesi yang sesuai dengan bidang pendidikan yang saya tempuh selama kuliah. Guru sepertinya adalah panggilan jiwa saya, jiwa dari seorang anak guru. Ya, bapak dan ibu saya adalah seorang guru. Saat ini saya mengajar di salah satu kota santri di Jawa Barat. Tepatnya di MTsN 11 Tasikmalaya. Baru berjalan 2 tahun, dan untuk ukuran saya 2 tahun di tempat baru belum bisa menjadi ukuran untuk bisa mengenal potensi dan menganalisis masalah dengan baik. Apalagi pembelajaran daring selama ini. Tapi pengalaman di sekolah sebelumnya yang akan coba saya tuangkan dalam catatan pendek ini. Sebelumnya saya mengajar di sebuah sekolah swasta, yaitu di SMPIT Insan Teladan di Cileunyi Jawa Barat. Di sekolah inilah awal saya mengenal literasi dan menjadi awal ide tulisan ini.

SMPIT Insan teladan adalah salah satu sekolah swasta dengan dasar Pendidikan Islam yang kuat di Cileunyi, Kabupaten Bandung. Awal saya mengajar, sekolah ini baru memiliki dua jenjang, yaitu kelas 7 dan 8. Membayangkan dengan sedikit peserta didik, tentu pembelajaran lebih menyenangkan, karena kita dapat mengenal anak-anak dengan lebih dekat. Dan tentunya sangat mudah memantau akhlak dan pembelajaran bagi mereka. Tapi ternyata permasalahan mengajar tidak hanya di seputar kuantitas, tapi kualitas.  Peserta didik dengan kuantitas sedikit menyebabkan beberapa murid dominan menguasai kelas.

Dalam kelas kecil yang terdiri dari 20 peserta didik, ada dua anak yang masuk dalam kategori anak super pendiam, menutup diri dan cenderung introvert. Mereka adalah Nai dan Ila. Saat pembelajaran atau saat bersenda gurau dengan temannya mereka berdua tidak pernah bersuara. Saat bertanya juga selalu mendekati meja guru dan berbisik jika bertanya. Kedua anak pendiam ini duduk sebangku dan tidak dapat dipisahkan. Apabila dipisahkan salah satu dari mereka akan menangis, dan besoknya keduanya tidak masuk sekolah, sebuah keadaan melankolis yang mengkhawatirkan bagi perkembangan psikologis. Keadaan mereka berdua yang sangat introvert ini menyebabkan mereka menjadi anak yang tidak muncul prestasinya. Keadaan mereka membuat mereka menjadi yang terbawah secara akademik, dan dalam pergaulan menjadi tidak diperhitungkan oleh teman-temannya. Keadaan yang berlangsung dari kelas 7 ini semakin manjadi di kelas 8. Saat teman yang lain aktif dalam organisasi di sekolah, mereka berdua selalu menggeleng setiap ditanya mau ikut kegiatan apa.

Sebagai wali kelas, saya berusaha mendekati mereka, kebetulan saya mengajar Bahasa Indonesia dan membuat ekskul Mading (Majalah Dinding). Setiap hari saya mendekati mereka berdua mengajak berbicara dan cerita apa saja. Awalnya mereka hanya menanggapi dengan senyum dan senyum. Lama kelamaan mereka mulai menanggapi dengan suara yang memang nyaris tidak terdengar. Saya tetap berusaha mengajak mereka berbicara dan berhasil mengajak mereka mengikuti ekskul Mading.

Beberapa bulan mengikuti ekskul mading, mereka berdua ternyata sangat rajin dan kreatif. Tanpa banyak bicara mereka selalu menyelesaikan tugas mading sesuai waktu yang telah ditentukan. Saya semakin sering mengajak mereka berbicara, dan mereka sudah bisa bercanda dengan beberapa teman di ekskul Mading. Saya juga mempercayakan mereka untuk mengkoordinir ekskul Mading dan pojok baca kecil yang baru kita rintis di sekolah. Saya selalu ajak mereka berdiskusi tentang buku yang akan kita beli dan yang mereka ingin baca.

Pada tahun 2018, sekolah kami mengikuti program dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung berupa program LRCKB (Leader Reading Challenge Kabupaten Bandung). Program ini merupakan tantangan dari Kepala Dinas Pendidikan, bagi peserta didik untuk membaca dan mereviu minimal 12 buku dalam setahun. Program ini memberikan kesempatan kepada semua sekolah untuk mengirimkan minimal 5 peserta didiknya. Kepala Sekolah memberikan tantangan kepada saya untuk menjadi pembina Tim LRCKB. Dengan senang hati saya menyanggupinya dan mulai memilih beberapa anak untuk saya ajak dalam Tim LRCKB. Agar mudah koordinasi, maka saya mengajak anak-anak di ekskul Mading untuk menjadi Tim LRCKB. 10 anak bersedia dan siap mengikuti.

Dari 10 anak yang ada di Tim LRCKB, Nai dan Ila saya ajak. Dan mereka ternyata bersedia dan paling antusias. Tugas dari Tim LRCKB ini adalah menyelesaikan tantangan membaca minimal sebulan satu buku dan membuat reviunya serta melakukan presentasi di depan Tim di akhir bulan. Seiring berjalannya program ini, Nai dan Ila ternyata dapat membaca dan membuat reviu buku dalam sebulan lebih dari 3 buku. Sebuah prestasi yang luar biasa dibandingkan temannya yang lain. Program terus berlangsung dan mereka berdua susul menyusul dalam hal perolehan membaca dan mereviu buku. Bahkan mereka sudah mulai mau mempresentasikan hasil reviu bukunya di depan teman-teman sekolah saat “Jum’at Membaca” di sekolah. Meraka sangat konsisten dan rajin bertanya adakah buku baru yang bisa dibaca. Hasil reviu mereka juga semakin bagus isi tulisannya. Sebuah kemajuan yang jauh dari perkiraan saya.

Pada akhir program, Ila membaca 70 buku selama setahun, dan memiliki Pohon Geulis (Pohon Gerakan Literasi) paling lebat di sekolah. Mereka berdua dan 3 temannya berhasil mengikuti Jambore Literasi Kabupaten Bandung karena berhasil menyelesiakan tantangan membacaminimal 12 buku dalam setahun. Setelah acara berlangsung, mereka berdua menjadi anak yang mulai membuka diri dan mulai berani berbicara di depan teman-temannya.

Perubahan mereka ternyata di apresiasi oleh beberapa guru, yang mengatakan bahwa Nai dan Ila mulai ada suaranya saat di kelas. Saat guru bertanya mereka berdua sudah mau menjawab, dan mereka berdua mulai terlihat prestasinya. Mereka saat ini sudah belajar di Sekolah Menengah Atas. Ila melanjutkan ke MAN 2 Bandung, dan Nai melanjutkan ke MA di Kuningan. Dari status di Medsos yang sering diunggah Ila, dia sekarang aktif berorganisasi di sekolahnya, dan terlihat lebih menikmati masa sekolahnya. Dan menurut teman-temannya mereka sudah tidak lagi pendiam, sekarang temannya banyak.

Saat kelulusan Ila mengirimkan surat kepada saya, yang menceritakan hal paling menyenangkan yang dia dapatkan saat sekolah adalah saat dia dianggap ada. Saat dia bisa menunjukkan bahwa dia bisa berprestasi. “Dan itu karena ibu selalu menganggap saya ada dan selalu mengatakan saya bisa seperti yang lain”. Terharu saya membacanya, dan pastinya saya bangga dengan mereka.  Tentu prestasi tidak selalu harus nilai yang tinggi, dengan sedikit kesempatan yang kita berikan ternyata anak yang selalu menutup diri pun bisa menjadi anak hebat yang bisa membanggakan dan menunjukkan bahwa mereka bisa berprestasi. Lebih menggembirakan lagi bagi saya, sampai saat ini mereka tetap suka membaca dan menyukai buku.

Mengganggap mereka ada dan mengajak mereka berbicara adalah hal yang saya lakukan untuk menggali potensi yang dimiliki oleh peserta didik yang pendiam dan menutup diri tersebut. Karena menurut saya setiap mereka mempunyai potensi yang harus digali. Peserta didik yang menutup diri potensinya tentu perlu digali, berbeda dengan peserta didik yang terbuka dan pandai ‘show up’. Dan apabila salah satu potensinya sudah tergali pasti akan diikuti munculnya prestasi-prestasi lainnya. Setiap anak adalah unik dan sebagai guru kita harus percaya bahwa mereka “berpotensi”.



Potensi Diri

Kita punya potensi di banyak hal

Oleh Isa Alamsyah

 

"The most exciting place to discover talent is in yourself.”

 

Tempat paling menarik untuk mencari bakat adalah diri sendiri.

Ashleigh Brilliant, Penulis Inggris

 

Apakah kita boleh mencoba banyak peluang? Kenapa tidak!

Mencoba banyak peluang bisa menambah ilmu sekaligus membuat kita mengetahui bidang terbaik yang cocok untuk kita.

Percayalah, kita mempunyai begitu banyak bakat dan potensi, hanya saja kita kurang mengeksplorasi diri. Anda akan takjub melihat betapa banyak bakat diri yang dimiliki dan bisa dikembangkan.

Sebagai wartawan karir Oprah terbilang sukses. Lalu ia naik menjadi pembawa berita. Tapi ia belok masuk ke bidang talk show, berbeda bidang tapi masih mirip. Setelah sukses di talk show ia masuk ke bisnis properti dan banyak bisnis lain yang juga sukses. Ternyata ia juga berbakat sebagai pengusaha. Bahkan ia masuk ke ajang politik praktis dengan mengorbitkan Barrack Obama. Ia termasuk salah satu yang berperan besar menjadikan Obama sebagai Presiden Amerika.

Arnold Schwarzenegger mengira dirinya akan sukses sebagai binaragawan, ternyata lebih dari itu. Dari binaraga ia bisa menjadi aktor laga karena badannya yang besar. Tapi karena tidak puas sekedar pamer badan, ia mencoba peran film komedi, dan ia sukses. Ia bangga karena acting-nya juga diakui. Ketika ia mencoba peruntungan di bisnis properti ia juga sukses. Terakhir Arnold masuk bidang politik dan pemuda keturunan Austria ini terpilih sebagai gubernur California.

Bukankah luar biasa jika kita biarkan diri mengembangkan potensi di berbagai bidang? Jangan penjara diri kita dalam rutinitas yang sama setiap hari seumur hidup!

 

Catatan tambahan:

Banyak yang menganjurkan pada kita untuk fokus. Donald Trump termasuk yang yang menganut fokus, karena menurutnya kalau kita terpecah malah bisa gagal dua-duanya.

Tapi ada juga filsafat membawa telur dengan dua keranjang, kalau satu keranjang jatuh masih ada keranjang lain.