Guru, mungkin sebenarnya bukan profesi
yang sesuai dengan bidang pendidikan yang saya tempuh selama kuliah. Guru
sepertinya adalah panggilan jiwa saya, jiwa dari seorang anak guru. Ya, bapak
dan ibu saya adalah seorang guru. Saat ini saya mengajar di salah satu kota
santri di Jawa Barat. Tepatnya di MTsN 11 Tasikmalaya. Baru berjalan 2 tahun,
dan untuk ukuran saya 2 tahun di tempat baru belum bisa menjadi ukuran untuk
bisa mengenal potensi dan menganalisis masalah dengan baik. Apalagi
pembelajaran daring selama ini. Tapi pengalaman di sekolah sebelumnya yang akan
coba saya tuangkan dalam catatan pendek ini. Sebelumnya saya mengajar di sebuah
sekolah swasta, yaitu di SMPIT Insan Teladan di Cileunyi Jawa Barat. Di sekolah
inilah awal saya mengenal literasi dan menjadi awal ide tulisan ini.
SMPIT Insan teladan adalah salah satu
sekolah swasta dengan dasar Pendidikan Islam yang kuat di Cileunyi, Kabupaten
Bandung. Awal saya mengajar, sekolah ini baru memiliki dua jenjang, yaitu kelas
7 dan 8. Membayangkan dengan sedikit peserta didik, tentu pembelajaran lebih
menyenangkan, karena kita dapat mengenal anak-anak dengan lebih dekat. Dan
tentunya sangat mudah memantau akhlak dan pembelajaran bagi mereka. Tapi
ternyata permasalahan mengajar tidak hanya di seputar kuantitas, tapi
kualitas. Peserta didik dengan kuantitas
sedikit menyebabkan beberapa murid dominan menguasai kelas.
Dalam kelas kecil yang terdiri dari 20 peserta
didik, ada dua anak yang masuk dalam kategori anak super pendiam, menutup diri
dan cenderung introvert. Mereka adalah Nai dan Ila. Saat pembelajaran atau saat
bersenda gurau dengan temannya mereka berdua tidak pernah bersuara. Saat
bertanya juga selalu mendekati meja guru dan berbisik jika bertanya. Kedua anak
pendiam ini duduk sebangku dan tidak dapat dipisahkan. Apabila dipisahkan salah
satu dari mereka akan menangis, dan besoknya keduanya tidak masuk sekolah,
sebuah keadaan melankolis yang mengkhawatirkan bagi perkembangan psikologis. Keadaan
mereka berdua yang sangat introvert ini menyebabkan mereka menjadi anak yang
tidak muncul prestasinya. Keadaan mereka membuat mereka menjadi yang terbawah
secara akademik, dan dalam pergaulan menjadi tidak diperhitungkan oleh
teman-temannya. Keadaan yang berlangsung dari kelas 7 ini semakin manjadi di
kelas 8. Saat teman yang lain aktif dalam organisasi di sekolah, mereka berdua
selalu menggeleng setiap ditanya mau ikut kegiatan apa.
Sebagai wali kelas, saya berusaha
mendekati mereka, kebetulan saya mengajar Bahasa Indonesia dan membuat ekskul
Mading (Majalah Dinding). Setiap hari saya mendekati mereka berdua mengajak
berbicara dan cerita apa saja. Awalnya mereka hanya menanggapi dengan senyum
dan senyum. Lama kelamaan mereka mulai menanggapi dengan suara yang memang
nyaris tidak terdengar. Saya tetap berusaha mengajak mereka berbicara dan
berhasil mengajak mereka mengikuti ekskul Mading.
Beberapa bulan mengikuti ekskul mading,
mereka berdua ternyata sangat rajin dan kreatif. Tanpa banyak bicara mereka
selalu menyelesaikan tugas mading sesuai waktu yang telah ditentukan. Saya
semakin sering mengajak mereka berbicara, dan mereka sudah bisa bercanda dengan
beberapa teman di ekskul Mading. Saya juga mempercayakan mereka untuk
mengkoordinir ekskul Mading dan pojok baca kecil yang baru kita rintis di
sekolah. Saya selalu ajak mereka berdiskusi tentang buku yang akan kita beli
dan yang mereka ingin baca.
Pada tahun 2018, sekolah kami mengikuti
program dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung berupa program LRCKB (Leader
Reading Challenge Kabupaten Bandung). Program ini merupakan tantangan dari
Kepala Dinas Pendidikan, bagi peserta didik untuk membaca dan mereviu minimal
12 buku dalam setahun. Program ini memberikan kesempatan kepada semua sekolah
untuk mengirimkan minimal 5 peserta didiknya. Kepala Sekolah memberikan tantangan
kepada saya untuk menjadi pembina Tim LRCKB. Dengan senang hati saya
menyanggupinya dan mulai memilih beberapa anak untuk saya ajak dalam Tim LRCKB.
Agar mudah koordinasi, maka saya mengajak anak-anak di ekskul Mading untuk
menjadi Tim LRCKB. 10 anak bersedia dan siap mengikuti.
Dari 10 anak yang ada di Tim LRCKB, Nai
dan Ila saya ajak. Dan mereka ternyata bersedia dan paling antusias. Tugas dari
Tim LRCKB ini adalah menyelesaikan tantangan membaca minimal sebulan satu buku
dan membuat reviunya serta melakukan presentasi di depan Tim di akhir bulan.
Seiring berjalannya program ini, Nai dan Ila ternyata dapat membaca dan membuat
reviu buku dalam sebulan lebih dari 3 buku. Sebuah prestasi yang luar biasa
dibandingkan temannya yang lain. Program terus berlangsung dan mereka berdua
susul menyusul dalam hal perolehan membaca dan mereviu buku. Bahkan mereka
sudah mulai mau mempresentasikan hasil reviu bukunya di depan teman-teman
sekolah saat “Jum’at Membaca” di sekolah. Meraka sangat konsisten dan rajin
bertanya adakah buku baru yang bisa dibaca. Hasil reviu mereka juga semakin
bagus isi tulisannya. Sebuah kemajuan yang jauh dari perkiraan saya.
Pada akhir program, Ila membaca 70 buku
selama setahun, dan memiliki Pohon Geulis (Pohon Gerakan Literasi) paling lebat
di sekolah. Mereka berdua dan 3 temannya berhasil mengikuti Jambore Literasi
Kabupaten Bandung karena berhasil menyelesiakan tantangan membacaminimal 12
buku dalam setahun. Setelah acara berlangsung, mereka berdua menjadi anak yang
mulai membuka diri dan mulai berani berbicara di depan teman-temannya.
Perubahan mereka ternyata di apresiasi
oleh beberapa guru, yang mengatakan bahwa Nai dan Ila mulai ada suaranya saat
di kelas. Saat guru bertanya mereka berdua sudah mau menjawab, dan mereka berdua
mulai terlihat prestasinya. Mereka saat ini sudah belajar di Sekolah Menengah
Atas. Ila melanjutkan ke MAN 2 Bandung, dan Nai melanjutkan ke MA di Kuningan.
Dari status di Medsos yang sering diunggah Ila, dia sekarang aktif berorganisasi
di sekolahnya, dan terlihat lebih menikmati masa sekolahnya. Dan menurut
teman-temannya mereka sudah tidak lagi pendiam, sekarang temannya banyak.
Saat kelulusan Ila mengirimkan surat
kepada saya, yang menceritakan hal paling menyenangkan yang dia dapatkan saat
sekolah adalah saat dia dianggap ada. Saat dia bisa menunjukkan bahwa dia bisa
berprestasi. “Dan itu karena ibu selalu menganggap saya ada dan selalu
mengatakan saya bisa seperti yang lain”. Terharu saya membacanya, dan pastinya
saya bangga dengan mereka. Tentu
prestasi tidak selalu harus nilai yang tinggi, dengan sedikit kesempatan yang
kita berikan ternyata anak yang selalu menutup diri pun bisa menjadi anak hebat
yang bisa membanggakan dan menunjukkan bahwa mereka bisa berprestasi. Lebih
menggembirakan lagi bagi saya, sampai saat ini mereka tetap suka membaca dan
menyukai buku.
Mengganggap mereka ada dan mengajak mereka
berbicara adalah hal yang saya lakukan untuk menggali potensi yang dimiliki
oleh peserta didik yang pendiam dan menutup diri tersebut. Karena menurut saya
setiap mereka mempunyai potensi yang harus digali. Peserta didik yang menutup
diri potensinya tentu perlu digali, berbeda dengan peserta didik yang
terbuka dan pandai ‘show up’. Dan apabila salah satu potensinya sudah
tergali pasti akan diikuti munculnya prestasi-prestasi lainnya. Setiap anak
adalah unik dan sebagai guru kita harus percaya bahwa mereka “berpotensi”.